selamatkan diri sendiri, dua kali

di musim dingin, aku jadi kucing.

walau aku sebenarnya suka dingin, tapi ragu sebenernya badanku sendiri tuh suka atau tidak sih sama dingin? kalo tidur, waktu di jakarta, suka pake ac. minuman ga terlalu suka dingin, tp untuk jenis tertentu, aku suka. es krim suka, apalagi kulfi, pas di sini. tempat romantis bagiku adalah tempat yang ada saljunya.

aku menyambut musim ini, untuk kedua kalinya, dengan sukacita. sampai suatu saat ketika mandi harus dilakukan di atas jam 11 siang (di bawah jam 6 sore). sampai suatu saat ketika mandi harus dilakukan bersama air panas.

memang alat pemasak air (immersion rod) di sini tampak mengerikan, tak aman. bagaimana air dan listrik bisa menyatu? aku juga punya trauma dengan pemasak air murahan (noban-an), ketika aku nyalakan tapi lupa memasukkan air ke dalam ketelnya, dan besi itu meledak. tapi temanku bersikeras meminjamkan aku pemasak air itu, yang bukan miliknya melainkan teman sekamarnya. bahkan teman sekamarnya pun tidak tahu. toh mereka tidak menggunakannya karena di asrama mereka tersedia air panas. aku coba sekitar satu-dua kali, setelah membaca petunjuk di bungkusnya. pertama, rod ini hanya bisa dipakai untuk air. kedua, hanya bisa dipakai di air alias dicelupkan. ketiga, angkat rod 10-20 detik setelah listrik dimatikan.. .kira-kira seperti itu. aku juga lihat batas tinggi air di badan rod itu.

suatu hari aku berniat mandi, tapi mengurung niat untuk keramas. setelah air jadi panas, aku keluarkan rod dari air, mandi, dan bahkan sedang masak air panas untuk minum, seingatku… ketika aku melihat cahaya oranye gemerlapan…. aku tidak tahu apa itu. tidak seperti lampu. dan ternyata api sudah di situ.

agak panik.

aku cabut colokan rod, cemplungkannya ke ember di dalam kamar mandi. matikan api di sapu yang tergeletak di tempat kejadian perkara dengan cara yang sama. sapu yang basah itu aku pakai untuk mematikan sisa api yang masih menari di pojok kamarku itu. oh tuhan, sepatu… kataku dalam hati. sepatuku baru…

tapi untunglah cukup segitu. sepatuku selamat. bahkan rod itu, walau tampak mengerikan, ternyata masih bisa dipakai… aku jadi lupa kenapa terjadi kebakaran itu. aku masih ingat rod itu oranye menyala, seperti bara. mungkin karena aku memasukkannya ke kardusnya selagi dia masih panas, atau aku belum mematikan listriknya… bagaimanapun, aku akan lebih hati-hati, terlebih karena trauma-trauma di masa lalu.

 

cerita kedua, masih ada hubungannya dengan musim dingin, mungkin. suatu malam, atau mungkin bukan (disorientasi waktu, karena dingin bawaannya tidur melulu), aku sedang membaca di kasur (dimana lagi?) dan aku melihat binatang menjalar ini melaju ke arahku. dengan cepat aku beranjak tanpa melepaskan pandanganku darinya untuk tahu dia kemana (seperti kucing dan tikus). dia mengumpat. aku angkat selimut, bantal, dia lenyap. yah… aku sudah bersiap untuk tidur tidak tenang. setengah membayangkan suatu geli akan lembut menyapaku (LOL). aku membentangkan selimutku yang sialnya berwarna gelap, merah hitam. mataku menyapu selimut itu. dan ya! kutemukan juga kelabang itu! aku menjepit badannya dengan buku (apa lagi?). dia masih bergeliat dengan girangnya. kenapa kok ga mati-mati? sempat terpikir untuk menggunting tubuhnya dengan anggun dan memisahkan jiwa dari tubuh pipihnya, tapi tangan tak sampai. tapi kalau kulepas binatang ini, mungkin aku akan kehilangan jejaknya. akhirnya kugilas badannya dengan balsem geliga!! tanpa ampun!

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s