Dunia Karnival, Dunia yang Berputar: Membaca Wajah Terakhir

Membaca cerpen Mona Sylviana seperti membaca cerita detektif, kisah misteri. Benar juga kata profesor Inggris, CW Watson, di epilog buku ini. Ia teringat cerita-cerita detektif Sherlock Holmes-nya Sir Arthur Conan Doyle. Membaca kisah misteri punya keasyikan sendiri. Pembaca ditantang untuk juga memecahkan masalah. Dari awal cerita, pembaca harus berperan aktif membangun logika cerita, menyusun data dan meletakkannya di garis waktu atas dasar sebab akibat. Di sini sebenarnya kita harus paham betul bahwa suara narator punya andil. Narator, baik sebagai karakter utama itu sendiri atau sebagai pengamat dari jauh, membawa pembaca sedemikian rupa agar suspensi terus terjaga, agar kejutan tetap utuh.

Tapi bukan hanya itu. Pembaca tidak sekedar digiring untuk sampai ke akhir dan membulatkan cerita. Cerita yang menyembunyikan banyak hal di sini membebaskan imajinasi pembaca, ketakutan mereka. Pembaca menjadi penulis-penulis sampingan. Sebut saja cerpen ‘Ningsih’. Setelah mendengar curhat panjang seorang laki-laki, yang kita duga keras suami Ningsih, tentang perempuan yang diperkosa lalu dibunuh dan mayatnya dibuang di hutan, meliarkah imajinasi kita sebagai pembaca untuk membuat simpul bahwa Ningsih bisa saja diperkosa lalu mengalami apapun yang menyebabkannya amnesia. Pembaca toh telah dipancing dengan disuguhkannya informasi bahwa Ningsih sering pulang malam, jalan kaki, sendiri dan sering tak luput dari godaan pengendara-pengendara mobil yang lalu. Informasi tersebut bukan keusilan narator semata, tapi menjadi stimulan bagi pembaca untuk membangun cerita lain, cerita cabang, atau cerita tandingan. Cerita bisa mendadak berakhir.

Dengan demikian, jalan cerita menjadi hal penting, kalau bukan utama. Kita bisa jadi menikmati (kesenangan atau kesedihan) proses bergulirnya cerita. Membaca cerita kalimat demi kalimat menjadi kebutuhan. Mungkin tidak seperti nonton sinetron sekarang, dimana penderitaan, dengan mudah ditebak, cuma menumpuk. Cerita-cerita Mona selangkah di depan film drama umumnya, yang sering ditonton ibu saya, misalnya. Kadang ketika dia harus berhenti menonton di tengah-tengah cerita, dia meminta saya tetap menonton dan memberitahunya akhir ceritanya. Jalan ceritanya secara detil jadi dinomorduakan. Segala cerita, baginya, cuma ada dua jenis. Happy ending atau sad ending. Tapi di sini, imajinasi berputar Mona memaksimalkan potensi sastra. Sastra bukan saja mencerminkan dunia yang sebenarnya, tapi dunia yang mungkin. Pertanyaan dan kritik dilancarkan pada nilai-nilai yang dianggap sudah kokoh.

Alur cerita tentunya tak harus mengalir. Menjajaki terkuaknya cerita-cerita di sini didistorsi dengan, di antaranya, nada staccato. Kalimat pendek-pendek, tak lengkap, kadang tanpa objek, lebih sering tanpa predikat, apalagi tanpa subjek. Narasi pun tak ayal bernada dapat bernada puitis, karena imaji yang cerdas, perumpamaan yang kuat.

Tapi tak selamanya petunjuk datang sejalan cerita. Kadang saya juga merasa seperti dicurangi karena tidak diberi cukup petunjuk, bahkan dibohongi. Misalnya, salah satu cerita favorit saya, ‘Aroma Mesiu’. Dopis, laki-laki berusia empat puluh lima tahun, beranak dua, duda dari perempuan yang bunuh diri, ternyata adalah ayah dari sang ‘saya’ sendiri. Sebab itu, kalimat bahwa ‘saya tinggal serumah dengannya’ sebenarnya hal yang sangat biasa dan tak perlu diberitahukan. Lumrahlah seorang anak tinggal di rumah orang tuanya, apalagi dia belum menikah. Inilah celah dari bangun cerita misteri. Apa detil akan sama menggugahnya saat dibaca kedua kalinya atau lebih?

Saya kira inilah tarik-ulur antara membuat kejutan dan narasi menawan. Salah satu tekniknya misalnya nama-nama tokoh yang aneh. Barok, Teja, Gahar, Garwa, Dopis, Warok, Geo dan San. Jenis kelamin pun jadi misteri, sebagai salah satu efek defamiliarisasi. Konsep yang dicetus formalis Rusia Victor Skhovsky ini membuat persepsi kita akan dunia jadi tertunda, tidak otomatis, atau klise. Dengan ketidaktahuan kita akan jenis kelamin tokoh, kita belum bisa menyematkan sifat-sifat, atau stigma-stigma. Kita juga sulit menentukan hubungan satu tokoh dengan tokoh lain, terutama suami-istri.

Seks memang satu isu yang disorot di buku ini. Seks adalah sesuatu yang laten, yang mendekam, yang merepresi sekaligus membebaskan. Menahan beban masing-masing, tokoh siap menerjang, melepaskan hasrat dan tekanan. Tak heran kebanyakan tokoh utama cerita-cerita di sini adalah perempuan. Tokoh Mona adalah tokoh yang ‘telanjang’. Perkosaan, kekerasan dalam rumah tangga—baik fisik maupun psikologis diumbar. Saya juga melihat ada formula kecil di akhir satu-dua cerita, yaitu monolog panjang, seolah ingin memberikan penjelasan atas tindakan tokoh, sebuah motif.

Selain kegamblangan seks, Mona juga mengekspos hal-hal ketubuhan lain. Hal-hal yang secara nyata dan kasat mata terlalu menempel dengan kita. Contoh, bibir yang seperti liang pantat, kotoran kuku yang diendus, kelamin yang terkena sipilis. Hal-hal yang tidak mau kita bayangkan, dengar, lihat, endus, apalagi sentuh. Kata-kata yang jorok, kasar, vulgar, yang mungkin bagi sebagian orang tidak pantas untuk diangkat dalam karya sastra. Namun hal-hal itu tetap bagian dari kenyataan hidup sehari-hari. Inilah realisme Mona. Kekerasan, organ tubuh, tabu terefleksi di cermin Wajah Terakhir. Dan menggambarkan hal-hal itu pun membutuhkan keberanian.

 

Ini mengingatkan saya akan sastra Dalit di India. Dalit sebagai kasta atau lapisan sosial di masyarakat Hindu, khususnya India, menempati posisi terendah dan bahkan dianggap bukan kasta. Kaum Dalit, yang secara harafiah berarti orang-orang yang tertindas, awalnya disegregasi melalui jenis pekerjaan. Mereka melakukan pekerjaan rendahan atau yang dianggap kotor, misalnya membersihkan bangkai atau kotoran manusia. Mereka dilarang masuk kuil, apalagi mempelajari agama atau kitab Weda. Pengalaman sehari-hari mereka mengais makanan basi layaknya anjing. Misalnya di otobiografi seorang Dalit asal Maharastra, Sharankumar Limbale, berjudul Akkarmashi digambarkan bagaimana ia dan keluarganya harus mengumpulkan bijih yang lolos dicerna hewan ternak layaknya kopi luwak, mencuci, memasak dan melahapnya.

Realisme semacam itu bisa dilihat sebagai yang ‘grotesque’, karnival, buruk atau aneh. Mengkritik Gereja Abad Pertengahan, Mikhail Bakhtin bilang karnival adalah perayaan atas yang profan. Dunia karnival tak mengenal batas sosial, tidak ada yang disucikan. Tubuh yang ‘grotesque’ atau menjijikkan adalah gambaran tubuh yang menjadi, metamorfosis yang belum selesai. Di dunia Mona, seorang suami bisa jadi raksasa yang menelan matahari, atau seorang perempuan melahirkan anak sebesar jempol.

Tapi, baik dongeng pengantar tidur atau riwayat di kitab suci, alusi menjadi alat bukti yang membantu kita menemukan kunci cerita-cerita di sini. Di karya terakhir, yang berjudul sama dengan buku koleksi cerpen ini, motif berlatar belakang politik Indonesia begitu terasa. Dengan patokan situasi politik tersebut, cerita jadi sedikit tertebak dan boleh dikata antiklimaks, meski Mona dengan gayanya tetap mengedepankan pergulatan tokoh dengan ingatan dan pengalamannya. Kilas balik, yang bagaikan video yang diputar ketika mata dipejamkan, berpadu dengan dilema tokoh dan waktu kenyataan yang memburu. Lalu, dapatkah Anda membuka lagi halaman-halaman ini setelah buku ditutup?

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s