suvenir memori

sudah, biarlah

biarkan bunga-bunga itu

bertaburan

kakukeringkerut

kelopak saling lepas

satu sa tu u…

warna terkunci, tapi

walau susah ia ingat bentuk asli

(dan dimana dia petik!)

terbaring di meja berhari hari

tertiup, terhempas, tertindih, tibas

masih

biar

bunga membawanya mengingat segala

suasana ketika ia

dipuji dan diuji

 

2012-12-20 20.04.26

driven insane by a geometry book

I will quote a passage from a BULK novel I am reading.

Just two sentences. Read on.

From that day on or that night on, not a week went by without the four of them calling back and forth regularly, sometimes at the oddest hours, without a though for the phone bill. Sometimes. it was Liz Norton who would call Espinoza and ask about Morini, whom she’d talk to the day before and whom she’d thought seemed a little depressed. That same day Espinoza would call Pelletier and inform him that according to Norton, Morini’s health had taken a turn for the worse, to which Pelletier would respond by immediately calling Morini, asking him bluntly how he was, laughing with him (because Morini did his best never to talk seriously about his condition), exchanging a few unimportant remarks about work, and later telephoning Norton, maybe at midnight, after putting off the pleasure of the call with a frugal and exquisite dinner, and assuring her that as far as could be hoped, Morini was fine, normal, stable, and what Norton had taken for depression was just the Italian’s natural state, sensitive as he was to changes in the weather (maybe the weather had been bad in Turin, maybe Morini had dreamed who knows what kind of horrible dream the night before), thus ending a cycle that would begin again a day later, or two days later, with Morini calling Espinoza for no reason, just to say hello, that was all, to talk for a while, the call invariable taken up with unimportant things, remarks about the weather (as if Morini and even Espinoza were adopting British conversational habits), film recommendations, dispassionate commentarry on recent books, in short, a generally soporific or at best listless hone conversation, but one that Espinoza followed with off enthusiasm, or feigned enthusiasm, or fondness, or at least civilized interest, and that Morini attended to as if his life depended on it, and which was succeeded two days or a few hours later by Espinoza calling Norton and having a conversation along essentially the same lines, and Norton calling Pelletier, and Pelletier calling Morini with the whole process starting over again days later, the call transmuted into hyperspecialized code, signifier and signified in Archimboldi, text, subtext, and paratext, reconquest of the verbal and physical territoriality in the final pages of Bitzius, which under the curcumstances was the same as talking about film or problems in the German department or the clouds that passed over their respective cities, morning to night.

I first heard about the author from my boss. I did a short review of his latest book then, only from reading other reviews, not really reading the novel. I thought he was more into criminal novel or science fiction. But we’ll see, once we finish this 898-page piece. hehehe *grin. Yeah, it’s thick. Maybe I picked up the book as I thought Murakami’s 1Q84 was…. ehm… too expensive (but as thick). But so far, I like it. Don’t you just love when you find something that suits you? Realizing that this is gonna be the one that puts a great deal of influence on your style, or anything. Read this if you would like a concise review of this one of the best books in 2008.

interface

i talk to a computer, the whole day

i talk to the office laptop, on work days. above 8 hours a day

i talk about TMT (you know what it stands for?) i talk harvesting rf ambient i talk transfer pricing i talk tax treaty i talk taxreturn i talk exposures

2012-12-15 19.12.55

i apologize, thanking for critique (to cushion my shame)

people say it’s urgent urgent urgent

i talk bull i talk shit

peer-to-peer otherwise, peer-to-anything but peer

i categorize, i reply, i make appointments, i highlight text, i put more texts, i make comments.

amendments. commandments.

i run word, switch to excel, dump powerpoint

what do i do when i don’t face the monitor? i turn my head and look out of the 33rd floor window. i remember milan’s face. i imagine dak choco rum latte and dark space.

i want to meet REAL people

Book and Beach Club Day-out in Bantul

Ini adalah pertemuan untuk Klub Buku Rara yang pertama kali untuk saya. Buku yang akan didiskusikan adalah The Geography of Bliss, sebuah kisah perjalanan yang dicatat oleh Eric Weiner (kami membaca terjemahan bahasa Indonesianya, terbitan Qanita). Untuk ulasan buku dan kritik terjemahannya, saya ceritakan terpisah ya…

bliss tempo co

Kami bangun pagi hari itu, dengan penuh perjuangan. Kami bertolak dari Jalan Kaliurang Yogyakarta sekitar pukul 9. Rencana awalnya adalah Rara berangkat bareng India dengan motor, sedangkan saya dengan ojek yang sudah dipesan. Ojek akan menurunkan saya di pasar Bantul, lalu saya lanjut dibonceng Mbak Tiwuk. Sebelumnya saya khawatir harus mencari helm dulu, karena malam sebelumnya belum beli di jalan Abubakar Ali karena toko sepanjang jalan sudah pada tutup. Malam itu juga India sudah memberi-tahu bahwa, kata Rara, India harus kerja dulu, ke shelter untuk kliennya. Keesokan paginya India harus membatalkan kepergiannya karena masih harus mengurus kliennya itu. Jadi Rara memesan ojek satu lagi. Ternyata saya kebagian ojek yang mengantar saya malam sebelumnya. Oke lah, walau dia sedikit cerewet. Bawaan kami? Selain buku itu, kami sudah mendapat tugas masing-masing. Rara, jus dan minuman; saya, makanan pencuci mulut.

Ojek saya, yang tadinya mengikuti ojeknya Rara, tiba-tiba memisahkan diri (deng deng deng!). Tukang ojek saya membangga-banggakan bahwa dia asli Bantul (saya tahu dari cerita dia malam sebelumnya bahwa dia berhasil beli rumah di Bantul ini seharga 100 juta, hasil ngojek… dan beberapa cerita lainnya). Dan dia bisa tiba lebih cepat karena dia tahu jalannya. Kenyataannya sebaliknya, ojeknya Rara sudah menunggu kami di Pasar Bantul selama 15 menit. Ini saya maklumkan karena dia berkendara dengan kecepatan moderat. Untung tidak hujan. Saya sih berjaga dengan bekal jas hujan dan payung! Selepas Ring Road, saya mengenali rute karena minggu lalu baru saya ke daerah Dongkelan, suatu boutique hotel bernama Vila Kupu-kupu, tempat teman kakak saya bernama Bowo. Ternyata kami bergerak lebih jauh lagi. Melewati juga pusat satwa dan tanaman hias. Lalu saya sempat melihat motor dan sepeda yang tumplek ruah untuk menghadiri suatu acara entah apa. Jalanan bersih. Kami melewati Pasar Bantul ini, dan bergerak beriringan lagi dengan ojek Rara, mencari persisnya rumah Mbak Tiwuk.

Image
Sesampainya kami di rumah Mbak Tiwuk, baru saja saya melepas helm dan mencerap kehijauan rumahnya—bagian luar dengan taman/kebunnya dan bagian bangunan rumahnya, saya diperas oleh tukang ojek saya ini, yang mematok tarif Rp35000. Dia mengeluarkan daftar harga berlaminating, harga resmi kantor dan menyatakan nomina untuk tujuan “Bantul Kota”. Padahal Rara cuma membayar Rp20000 ke Pak Edi ojek langganannya, sesuai kesepakatan sebelumnya. Yah… setidaknya Pak Parman ini akan masuk blacklist saya, bahkan mungkin saya akan mewartakan ini sampai ke Jakarta! Haha! Tapi suasana rumah Mbak Tiwuk menyembuhkan saya. Banyak sekali tanaman dan pohon. Ada mangga madu dan harum manis, berbagai kamboja, kembang sepatu, sejenis suplir (?), berentetan kaktus, bunga favorit saya teratai—biru dan mekar dan daunnya nyaris tanpa cacat, bunga ‘klasik’ merah berkelopak empat dan berbatang duri kejam, dll dsb. Hebohlah perbincangan seputar tanam-menanam antara para simpatisan ini, Rara dan Mbak Tiwuk, selagi kami menunggu Nina yang tinggal tak jauh dari situ. Dan.. psstt, bahkan Rara menemukan ‘harta karun’ yang masih setali merah dengan pertemuan klub buku mereka sebenarnya… (*mention katarara).

Image
Sebelumnya saya sedang main ke tetangga, ingin memotret pohon mangga berbuah melimpah yang saya curigai adalah ‘mangga apel’. Berkat pengetahuan yang saya cerap dari bergaul di Mirota Kampus, saya kenal berbagai jenis mangga! Yeah! Selagi sibuk dengan mangga-mangga centil bergelayut, handphone saya dan Instagram, saya masih heran kok buah-buah ini selamat dari tangan usil nan berhasrat. Eh tahu-tahu sang pemilik rumah, seorang bapak berusia sekitar 60-an, beruban, berkaus, bercelana pendek, berkaca-mata, menghampiri saya. Langsung saya basa-basi dan memuji-muji pohon yang tepat di tengah-tengah depan rumahnya. Dia mengaku tak enak kalo memberikan buah ini ke tetangganya karena rasanya tidak enak (masa??). Ya, kata Mbak Tiwuk buah ini harus matang pohon, makanya para audience rela menunggu tiba waktunya dia matang dengan pas, menurut standar orang kebanyakan ☺. Eh bapak ini berbaik hati memberi saya dua buah mangga ini yang dia ambil dari dalam rumahnya!

Saya kembali ke rumah Mbak Tiwuk dengan mengumbar senyum. Tak lama Nina pun datang. Menjerit setelah melihat harta karun temuan Rara dan mulai menjepret-jepret kamera DSLR-nya. Mbak Tiwuk pun memetik mangga harum manis dan mangga madu sebagai tambahan untuk bekal piknik kami. Sepertinya tidak ada perkebunan mangga yang dikelola secara profesional (profit oriented?) di negeri ini, karena pohon tumbuh di halaman mana saja, dan siapa saja bisa jadi ‘pengebun mangga’. Dan pemerintah perlu memberi penyuluhan khusus bagaimana mengelola panen (betapa banyak yang tercecer terbuang dan dicaplok kelelawar!) dan mungkin menyalurkannya ke, terutama, daerah ber-gross domestic manggoes rendah.

Kami naik mobil Nina ke rumahnya. Perempuan imut beranak satu ini dulunya anak kota, dan sempat mengalami goncangan budaya waktu tinggal di kota kecil ini. Tapi sekarang dia sudah kerasan, dan anaknya, Sita, akan puas mengenal alam dan binatang-binatang di sini, bonus udara bersih dan suara-suara yang melangka di daerah perkotaan. Nina, selaku pemandu wisata dadakan kami, menunjuk dan menjelaskan jembatan yang konon merupakan yang terpanjang di Jawa Tengah. Kami tiba di rumah Nina, sayang Sita sedang di keluar bersama ayahnya, ke bengkel. Kami mengambil perbekalan dan berangkat lagi. Hamparan sawah bermurah hati dengan warna hijau dan ketenangannya. Sepertinya bermain sepeda, bercaping, menyusuri pematang “rumput” ini akan mengasikkan sekali, bukankah? Kami berpapasan dengan dua mobil-kereta masing-masing dua gerbong, ala bis yang mengelilingi kebun binatang, penumpangnya bersesalan. Lucu juga kalau bis ini disewa untuk acara keluarga pasca-pernikahan seperti cerita Nina ya. Ternyata perjalanan kami pendek. Sudah ada petunjuk, ke kanan Pantai Baru, kiri, Pantai Kuwaru. Kami di Dusun Ngetak, Poncosari, Srandakan. Srandakan memang pas disebut ujung dunia… Angin pantai mulai terasa. Pemandangan yang menawan perhatian kami pertama adalah kincir angin. Kincirnya sih tidak panjang, jumlah menaranya pun tidak wah. Tapi di antara bentangan langit biru cerah itu, kincir anginnya kelihatan mewah, kadang menyerupai helikopter dengan moncongnya. Kami memasuki kompleks Pantai Baru. Dijelaskan pengumuman yang bacanya: « Pembangkit listrik tenaga hibrid ». Angin sudah, matahari? Panel surya yang saya lihat tidak besar, di sisi kanan-kiri saya, dan letaknya tidak tinggi. Kami pun parkir dan mengeluarkan barang bawaan kami, berjalan menuju pantai.

Image

Pantai tidak terlalu ramai. Penjual makanan juga tak banyak. Walau ada pasar ikan dan ‘penjual jasa’ masak. Daftar harga: goreng 7.000, bakar 10.000, goreng tepung 10.000, dan asam manis 10.000. Murah kan? Cuma dua-tiga yang menjual baju. Mungkin tak ada suvenir. Ada bangkai ikan hiu tutul terdampar suatu sore bulan Agustus lalu yang kini terbujur, bentuknya tak karuan (lihat pantaibaru.wordpress.com). Daerah yang teduh dengan pohon cemara adalah yang kami okupasi. Tikar 3 meter warna biru muda digelar (berdasarkan pengakuan Rara, harganya 3000 semeter). Makanan dan, tidak lupa, buku, ditebar. Ada kripik tempe, nasi goreng, kopi good day rasa orange, kacang, mangga, pudding buah, kripik jagung, dan lainnya.

Klub buku ini, kata Rara, dibentuk untuk membahas buku yang tidak berkaitan dengan pekerjaan Rara dan teman-temannya. Sebelumnya mereka telah membahas kumpulan cerpen Nadira oleh Leila Chudori, yang katanya “berat” dan “sedih”. Rara ambil kendali sebelum kami lepas kendali dihadang makanan. Dia melancarkan pertanyaan demi diskusi ini. Apa arti kebahagian buatmu? Sejujurnya saya belum selesai membaca buku ini. Tapi pembagian berdasarkan negara di buku ini asyik sekali. Kami memberi contoh-contoh cerita dari buku untuk mendukung argumen kami. Untuk mengenali kebahagiaan, kita harus tahu ketidakbahagiaan. Apakah kebahagiaan bisa dinilai dengan uang? Para pembaca antusias ini sepakat melempar kesimpulan bahwa kebahagiaan itu bisa jadi sederhana, sesederhana makan mangga (manis) dan ada yang ngupasin, malah ada yang nyuapin ☺  Dengan backdrop pantai berpasir abu yang lumayan bersih, ombak yang lumayan besar, angin semilir, tentu kami berbicang serius. Tentang kebebasan, pilihan, nilai agama, menjadi warga negara dan pelancong, mempelajari budaya, TKI, uang. Dan sebagainya. Acara klub buku ini toh bentuk kebahagiaan itu. Beserta merencanakan buku selanjutnya (trilogi Kim Dong-Hwa?) dan tempat berikutnya (gunung Kaliurang?) dan jatah tugas menu seterusnya he he…

Cuaca berpihak pada kami, tidak hujan. Dua fotografer, Mbak Tiwuk dan Nina membebaskan kreasi mereka. Pemandangan dan kami sendiri jadi modelnya. Pengunjung datang-pergi silih berganti, mobil pantai roda-tiga (bermesin, ya) meluncur. Sinar matahari menghangat. Saya berjalan ke arah Barat, ingin meneliti air. Ombak menepi pasti-pasti. Eh, kepiting kecilpun, dengan kelincahan dan kebahagiaan sendirinya, menarik perhatian saya juga. Buih air sekejab menghias landai pantai, sekejab itupun tersedot menghilang. Di kejauhan ada kapal, atau mungkin bukan. Kata Rara, laut terlalu sulit diprediksi. Segalanya mungkin terjadi. Di sini lagi saya berdiri, di tepi darat dan air. Laut memang serba merangkul, menjadikan bumi satu. Life of Pi, Talk to Her-nya Almodovar, Iones Rakhmat, Mata Tertutup-nya Garin… semua jadi satu. “Kehidupan itu ‘indah’, tak boleh ada yang menutupnya.” Saya berjalan, kembali ke basecamp.

Matahari makin miring, condong ke Barat. Pose meregang: bersandar, berselonjor dan tiduran. Jadi ingin tinggal di mana di antara negara-negara tersebut? Qatar, tidak menarik, orang-orangnya kurang ajar. Islandia, terlalu depresif. Bhutan, terlalu terisolasi. Amerika, lewat. Belanda, bisa jadi pilihan. Moldova? Inggris Raya? India? Kalau yang terakhir, sih, layak dikunjungi lagi, setidaknya bagi saya. Apakah Eric penggerutu? Apakah Eric bertambah bijak? Kelapa muda dipesan. Topi Rara digilir. Para pemancing ikan di pantai bergeming. Oh ya, ternyata Pantai Parangtritis kelihatan dari sini. Tak lama, Sita dan ayahnya datang. Kami punya model satu lagi untuk difoto-foto. Selain sadar kamera, Sita, anak berpipi tembam dan berambut ikal ini juga unjuk kebolehan menyanyi dan menari! Melihat keluarga kecil ini bahagia, ya, membahagiakan.

Waktunya pulang, kami mengakhiri kunjungan singkat namun berkesan ini. Hari Minggu itu benar-benar terasa hari Minggu bagi saya yang berkantor ini. Lain kali kami akan coba blekecek, “bumbu mentah dikasih santan”. Oke. Salah satu sandal saya, yang pernah diselamatkan Rara dengan jarum dan benangnya, kini almarhum. Mbak Tiwuk memburu gambar kincir-kincir megah. Kami tak jadi mampir ke Goa, lalu kembali ke rumah Nina. Asin dan pasir seperti menempel di paras kami. Sita mentas lagi. Tante Rara sulit mengucapkan selamat tinggal pada anak ini sepertinya. Tapi kami harus pergi. Di rumah Mbak Tiwuk yang bercat dan berubin hijau itu kami menyempatkan cuci muka. Pertemuan berikutnya? Mungkin saja di lain kota. Sampai jumpa.

Silang-sengkarut Subjektivitas: Pengamatan atas Video « What » Reza Afisina

What: Silang-sengkarut Subjektivitas

But I say to you, my friends, Fear not those who kill the body
and after this have no more that they can do
– Luke 12:4

See a short clip of the video here on Youtube.

Sebagai bentuk seni yang lebih baru, video mampu menampilkan rangkaian gambar. Gambar-gambar yang bergerak ini lebih mampu memperlihatkan hubungan sebab-akibat (kausalitas) dengan hadirnya periode. Video dapat pula menyertakan alur atau jalan cerita. Dalam satu karya—misalkan untuk menampilkan orang berjalan—ada potongan-potongan gambar ketika orang itu baru mulai mengangkat kaki, ketika salah satu kakinya melayang di udara, dan ketika kaki tersebut mendarat, dimana pada saat yang sama kaki yang lain beranjak lepas dari tanah.  Perihal alur ini, misalnya, dapat juga dilihat dalam adegan yang menggambarkan orang sedang menangis: ada gambar ketika ia mulai menitikkan air mata, sesenggukan dan pada akhirnya meraung-raung.

WhatPada What (2001), sebuah karya video Reza Afisina (Asung), ada aktor, dialog (atau, untuk lebih tepatnya, monolog) dan plot. Penonton dapat melihat (sekaligus mendengar) bahwa sang aktor pada awalnya seperti sedang mengutip puisi berbahasa Inggris. Mungkin puisi tersebut merupakan bait-bait milik William Wordsworth atau John Donne. Aktor tersebut duduk dan bertelanjang dada. Di belakangnya, seperti dibocorkan oleh Hafiz Rancajale, pengamat film dan pendiri Forum Lenteng yang turut serta dalam pembuatan video itu, adalah instalasi yang berupa silet-silet yang acak tertancap di tripleks putih. Aktor tersebut melakukan semacam-monolog tersebut dengan nada datar, seperti merapalkan mantera, sambil sesekali menampari dirinya sendiri. Adegan ini, menurut saya, merupakan gambaran klasik penyiksaan di ruang interogasi, dimana sang penyidik berusaha mengorek kebenaran dari tahanan. Tahanan itu pun bertahan dengan versi kebenarannya sendiri.

Ketika saya mendengar sang aktor melontarkan kata “He”, yang mengacu kepada Tuhan, dan berkata-kata dengan bahasa Inggris arkaik, saya baru bisa menduga bahwa sang aktor sedang mengutip ayat Alkitab. Kadang, sebelum ia menyelesaikan sebuah kalimat, tangannya sudah mendarat di pipinya dengan keras. Tangan kiri menampar pipi kiri dan tangan kanan pipi kanan, dengan alusi, yang saya tangkap, ajaran Yesus–jika kita ditampar di pipi kiri, berikan pipi kanan. Alat perekam gambar yang ia pakai tampaknya diletakkan begitu saja tanpa ada orang yang mengoperasikannya.

What 2Kemudian, seperti memiliki dua kepribadian, aktor yang terengah-engah tersebut kembali menghadap ke arah kamera—dengan mata menghindari kamera—dan merapalkan ayat-ayat Alkitab lagi, seolah bertahan dengan kehendaknya; seolah ia tetap setia pada apa yang diyakininya dan tidak terpengaruh oleh rasa sakit fisiknya. Kedua pipi dan matanya lebam, keringat bertengger di wajah dan rambutnya, ingus berleleran dari hidungnya. Mungkin ia tidak lagi mengerti apa yang diucapkannya, tetapi sekadar mengulang-ulang ayat itu sebagai robot. Atau, dengan mengucapkan ayat itu, ia juga sedang memeriksa batinnya, mencari tahu apakah ia masih mempercayai apa yang termuat dalam ayat tersebut. Saya jadi teringat Winston Smith, protagonis dalam novel karya George Orwell yang berjudul 1984, subjek indoktrinasi pemerintahan totaliter. Diperlakukan seperti binatang, Winston Smith meragukan apakah ia masih bisa membela ruang rahasia yang bernama otak.

Dalam katalog OK Video Post-event 2004, kurator Hendro Wiyanto menyebut Asung sempat pingsan ketika bermain dalam video What tersebut, yang mungkin menjelaskan adanya adegan yang terpotong. Pada titik ini, saya melihat Asung sebagai aktor menjalankan dua peran dengan sangat baik: di satu sisi dia menjadi korban yang menahan sakit dan di sisi lain ia menjadi pelaku penyiksaan. Ia mampu menghimpun tenaga dari kepayahannya dan menyalurkannya ke dirinya sendiri, tidak menakar dampak dari tamparannya sehingga ia tak sadarkan diri. Asung menjadi dua diri: yang masokis dan yang sadis.

Adegan berikutnya melibatkan sang aktor yang sedang mengambil sebatang rokok, menyalakannya, kemudian menghisapnya. Keheningan ruang digantikan oleh latar suara yang berat yang mungkin berasal dari kalimat-kalimat milik aktor yang sama namun diperlambat. Lalu layar berubah hitam. Tulisan ayat tersebut ditampilkan satu per satu. Kita kemudian diperlihatkan sumber kutipan monolog Asung, yaitu dari injil Lukas.

Menuturkan ayat Alkitab berkali-kali, Asung kelihatannya percaya dengan sesuatu yang menguasai dirinya setelah tubuhnya mati. Namun, ia tidak gentar terhadap sesuatu yang hanya bisa mematikan raganya. Sebagai objek yang disiksa (walaupun eksekusinya diwakili oleh tangannya sendiri), Asung adalah kelompok subaltern yang ambigu. Sebagai tambahan, istilah subaltern sendiri pertama kali dipakai oleh Antonio Gramsci untuk kelompok inferior—subjek hegemoni bagi kelas yang berkuasa—ketika ia membahas tentang kelas yang tidak masuk dalam sejarah Italia dalam tulisannya pada 1934.

Dalam What, Asung masokis adalah subaltern yang berbicara, sementara Asung yang sadis tidak punya atau tidak diberikan kesempatan berbicara. Mungkin inilah akhir peran Asung yang sadis. Asung yang pingsan adalah kekalahan Asung sadis, Asung yang bungkam.

 

Kontradiksi Asung?

Video adalah bentuk seni naratif dan umumnya memiliki tokoh. Jika dalam fiksi, salah satu titik dalam perjalanan alur adalah perubahan karakter atau nasib tokoh, ini pulalah yang saya lihat dari video What. Setelah adegan monoton dan menyakitkan itu–menampar diri sendiri sambil tetap mengutip Injil, Asung menyalakan rokok. Ini saya asumsikan sebagai pembalikan rasa sakit, penyembuh, antidot. Ia seolah sedang memberikan penghargaan pada dirinya sendiri dengan melakukan hal yang baginya menyenangkan. Merokok menenangkan dirinya. Tetapi perubahan drastis ini memicu saya untuk berpikir bahwa Asung telah melepaskan perannya sebagai aktor dan lalu muncul sebagai sutradara. Atau ia menjadi bisu, tak bisa dan tidak perlu mengatakan apa-apa lagi secara verbal.

Ketika Asung mematikan sebentar kameranya, perannya sebagai sutradara semakin tampak. Ia-lah yang punya konsep dan cerita, yang punya bayangan akan seperti apa nanti hasil rekamannya. Momen ini sangat sarat kepentingan. Asung punya kuasa untuk menghadirkan dan meniadakan suatu adegan. Ia memegang gunting sensor, mengendalikan persepsi penonton. Diri  Asung terbagi-bagi antara objek dan subjek penamparan serta mastermind atau arsitek keseluruhan video.

Dalam buku Regarding the Pain of Others, Susan Sontag melihat kekuatan fotografi untuk menjadi objektif. Lebih jauh, kelebihan aspek fotografi yang melampaui sastra yaitu gabungan antara gambaran kenyataan sekaligus pernyataan pribadi. Bagaimanapun, kamera dikendalikan oleh pemotret berdasarkan dorongan-dorongan subjektifnya. Dalam persimpangan fotografi dengan video, What menjadi pernyataan pribadi Asung dengan jejaring subjektivitasnya.

Tubuh

Perlakuan Asung terhadap tubuhnya juga menarik untuk dibahas. Tubuh bukanlah komoditas atau barang yang bisa dibeli, tubuh adalah ranah kuasa pribadi mengungkapkan permasalahan. Di satu sisi, tubuh Asung adalah yang disiksa, masokis. Tubuh yang pasrah, hirau akan perlakuan yang akan menimpanya. Dari sisi yang lain, sebaliknya, tubuh Asung adalah tubuh yang memperhatikan dirinya sendiri, mengurusi dirinya sendiri, yang narsis.

acconci

Christine Poggi menulis tentang karya-karya Vito Acconci termasuk Trademarks (1970), dimana ia menggigiti tubuhnya sendiri hingga tampak bekas hujaman giginya, yang kadang melukai kulitnya. Bekas gigitan ini diberi tinta dan kemudian menempelkan “cap” ini ke berbagai permukaan media. Amelia Jones dalam Poggi menyatakan bahwa karya Acconci merupakan pergerakan dialektika dimana posisi subjek dan objek senantiasa berganti. Tubuh mejadi lingkaran self-reflexive, pasif dan aktif. Tubuh menjadi maskulinitas yang hiperbol sekaligus masokisme yang teatrikal.

Dalam esainya, “Video: The Aesthetics of Narcissism,” Rosalind Krauss berargumen bahwa video adalah medium psikologis, daripada teknologi. Pada kelahirannya sebagai bentuk seni pada tahun 1970-an hingga 1980-an, video art menjadikan dirinya sebagai ranah narsisisme. Perhatian penonton dibelokkan dari pertemuan dengan objek luar sebagai Liyan ke arah parameter situasi psikologis dimana Diri dibangun.

Jadi saya melihat posisi ambivalen Asung sebagai tanda bahwa What adalah pergulatan dalam dirinya sendiri. Karya video tersebut menampilkan Asung sebagai pencipta yang resah juga medium penyampai keresahannya itu.

 

Indah Lestari

This article was originally written in September 2008 for the art writing workshop organized by Ruang Rupa, Jakarta. For more information on the workshop, check www.jarakpandang.net