Silang-sengkarut Subjektivitas: Pengamatan atas Video « What » Reza Afisina

What: Silang-sengkarut Subjektivitas

But I say to you, my friends, Fear not those who kill the body
and after this have no more that they can do
– Luke 12:4

See a short clip of the video here on Youtube.

Sebagai bentuk seni yang lebih baru, video mampu menampilkan rangkaian gambar. Gambar-gambar yang bergerak ini lebih mampu memperlihatkan hubungan sebab-akibat (kausalitas) dengan hadirnya periode. Video dapat pula menyertakan alur atau jalan cerita. Dalam satu karya—misalkan untuk menampilkan orang berjalan—ada potongan-potongan gambar ketika orang itu baru mulai mengangkat kaki, ketika salah satu kakinya melayang di udara, dan ketika kaki tersebut mendarat, dimana pada saat yang sama kaki yang lain beranjak lepas dari tanah.  Perihal alur ini, misalnya, dapat juga dilihat dalam adegan yang menggambarkan orang sedang menangis: ada gambar ketika ia mulai menitikkan air mata, sesenggukan dan pada akhirnya meraung-raung.

WhatPada What (2001), sebuah karya video Reza Afisina (Asung), ada aktor, dialog (atau, untuk lebih tepatnya, monolog) dan plot. Penonton dapat melihat (sekaligus mendengar) bahwa sang aktor pada awalnya seperti sedang mengutip puisi berbahasa Inggris. Mungkin puisi tersebut merupakan bait-bait milik William Wordsworth atau John Donne. Aktor tersebut duduk dan bertelanjang dada. Di belakangnya, seperti dibocorkan oleh Hafiz Rancajale, pengamat film dan pendiri Forum Lenteng yang turut serta dalam pembuatan video itu, adalah instalasi yang berupa silet-silet yang acak tertancap di tripleks putih. Aktor tersebut melakukan semacam-monolog tersebut dengan nada datar, seperti merapalkan mantera, sambil sesekali menampari dirinya sendiri. Adegan ini, menurut saya, merupakan gambaran klasik penyiksaan di ruang interogasi, dimana sang penyidik berusaha mengorek kebenaran dari tahanan. Tahanan itu pun bertahan dengan versi kebenarannya sendiri.

Ketika saya mendengar sang aktor melontarkan kata “He”, yang mengacu kepada Tuhan, dan berkata-kata dengan bahasa Inggris arkaik, saya baru bisa menduga bahwa sang aktor sedang mengutip ayat Alkitab. Kadang, sebelum ia menyelesaikan sebuah kalimat, tangannya sudah mendarat di pipinya dengan keras. Tangan kiri menampar pipi kiri dan tangan kanan pipi kanan, dengan alusi, yang saya tangkap, ajaran Yesus–jika kita ditampar di pipi kiri, berikan pipi kanan. Alat perekam gambar yang ia pakai tampaknya diletakkan begitu saja tanpa ada orang yang mengoperasikannya.

What 2Kemudian, seperti memiliki dua kepribadian, aktor yang terengah-engah tersebut kembali menghadap ke arah kamera—dengan mata menghindari kamera—dan merapalkan ayat-ayat Alkitab lagi, seolah bertahan dengan kehendaknya; seolah ia tetap setia pada apa yang diyakininya dan tidak terpengaruh oleh rasa sakit fisiknya. Kedua pipi dan matanya lebam, keringat bertengger di wajah dan rambutnya, ingus berleleran dari hidungnya. Mungkin ia tidak lagi mengerti apa yang diucapkannya, tetapi sekadar mengulang-ulang ayat itu sebagai robot. Atau, dengan mengucapkan ayat itu, ia juga sedang memeriksa batinnya, mencari tahu apakah ia masih mempercayai apa yang termuat dalam ayat tersebut. Saya jadi teringat Winston Smith, protagonis dalam novel karya George Orwell yang berjudul 1984, subjek indoktrinasi pemerintahan totaliter. Diperlakukan seperti binatang, Winston Smith meragukan apakah ia masih bisa membela ruang rahasia yang bernama otak.

Dalam katalog OK Video Post-event 2004, kurator Hendro Wiyanto menyebut Asung sempat pingsan ketika bermain dalam video What tersebut, yang mungkin menjelaskan adanya adegan yang terpotong. Pada titik ini, saya melihat Asung sebagai aktor menjalankan dua peran dengan sangat baik: di satu sisi dia menjadi korban yang menahan sakit dan di sisi lain ia menjadi pelaku penyiksaan. Ia mampu menghimpun tenaga dari kepayahannya dan menyalurkannya ke dirinya sendiri, tidak menakar dampak dari tamparannya sehingga ia tak sadarkan diri. Asung menjadi dua diri: yang masokis dan yang sadis.

Adegan berikutnya melibatkan sang aktor yang sedang mengambil sebatang rokok, menyalakannya, kemudian menghisapnya. Keheningan ruang digantikan oleh latar suara yang berat yang mungkin berasal dari kalimat-kalimat milik aktor yang sama namun diperlambat. Lalu layar berubah hitam. Tulisan ayat tersebut ditampilkan satu per satu. Kita kemudian diperlihatkan sumber kutipan monolog Asung, yaitu dari injil Lukas.

Menuturkan ayat Alkitab berkali-kali, Asung kelihatannya percaya dengan sesuatu yang menguasai dirinya setelah tubuhnya mati. Namun, ia tidak gentar terhadap sesuatu yang hanya bisa mematikan raganya. Sebagai objek yang disiksa (walaupun eksekusinya diwakili oleh tangannya sendiri), Asung adalah kelompok subaltern yang ambigu. Sebagai tambahan, istilah subaltern sendiri pertama kali dipakai oleh Antonio Gramsci untuk kelompok inferior—subjek hegemoni bagi kelas yang berkuasa—ketika ia membahas tentang kelas yang tidak masuk dalam sejarah Italia dalam tulisannya pada 1934.

Dalam What, Asung masokis adalah subaltern yang berbicara, sementara Asung yang sadis tidak punya atau tidak diberikan kesempatan berbicara. Mungkin inilah akhir peran Asung yang sadis. Asung yang pingsan adalah kekalahan Asung sadis, Asung yang bungkam.

 

Kontradiksi Asung?

Video adalah bentuk seni naratif dan umumnya memiliki tokoh. Jika dalam fiksi, salah satu titik dalam perjalanan alur adalah perubahan karakter atau nasib tokoh, ini pulalah yang saya lihat dari video What. Setelah adegan monoton dan menyakitkan itu–menampar diri sendiri sambil tetap mengutip Injil, Asung menyalakan rokok. Ini saya asumsikan sebagai pembalikan rasa sakit, penyembuh, antidot. Ia seolah sedang memberikan penghargaan pada dirinya sendiri dengan melakukan hal yang baginya menyenangkan. Merokok menenangkan dirinya. Tetapi perubahan drastis ini memicu saya untuk berpikir bahwa Asung telah melepaskan perannya sebagai aktor dan lalu muncul sebagai sutradara. Atau ia menjadi bisu, tak bisa dan tidak perlu mengatakan apa-apa lagi secara verbal.

Ketika Asung mematikan sebentar kameranya, perannya sebagai sutradara semakin tampak. Ia-lah yang punya konsep dan cerita, yang punya bayangan akan seperti apa nanti hasil rekamannya. Momen ini sangat sarat kepentingan. Asung punya kuasa untuk menghadirkan dan meniadakan suatu adegan. Ia memegang gunting sensor, mengendalikan persepsi penonton. Diri  Asung terbagi-bagi antara objek dan subjek penamparan serta mastermind atau arsitek keseluruhan video.

Dalam buku Regarding the Pain of Others, Susan Sontag melihat kekuatan fotografi untuk menjadi objektif. Lebih jauh, kelebihan aspek fotografi yang melampaui sastra yaitu gabungan antara gambaran kenyataan sekaligus pernyataan pribadi. Bagaimanapun, kamera dikendalikan oleh pemotret berdasarkan dorongan-dorongan subjektifnya. Dalam persimpangan fotografi dengan video, What menjadi pernyataan pribadi Asung dengan jejaring subjektivitasnya.

Tubuh

Perlakuan Asung terhadap tubuhnya juga menarik untuk dibahas. Tubuh bukanlah komoditas atau barang yang bisa dibeli, tubuh adalah ranah kuasa pribadi mengungkapkan permasalahan. Di satu sisi, tubuh Asung adalah yang disiksa, masokis. Tubuh yang pasrah, hirau akan perlakuan yang akan menimpanya. Dari sisi yang lain, sebaliknya, tubuh Asung adalah tubuh yang memperhatikan dirinya sendiri, mengurusi dirinya sendiri, yang narsis.

acconci

Christine Poggi menulis tentang karya-karya Vito Acconci termasuk Trademarks (1970), dimana ia menggigiti tubuhnya sendiri hingga tampak bekas hujaman giginya, yang kadang melukai kulitnya. Bekas gigitan ini diberi tinta dan kemudian menempelkan “cap” ini ke berbagai permukaan media. Amelia Jones dalam Poggi menyatakan bahwa karya Acconci merupakan pergerakan dialektika dimana posisi subjek dan objek senantiasa berganti. Tubuh mejadi lingkaran self-reflexive, pasif dan aktif. Tubuh menjadi maskulinitas yang hiperbol sekaligus masokisme yang teatrikal.

Dalam esainya, “Video: The Aesthetics of Narcissism,” Rosalind Krauss berargumen bahwa video adalah medium psikologis, daripada teknologi. Pada kelahirannya sebagai bentuk seni pada tahun 1970-an hingga 1980-an, video art menjadikan dirinya sebagai ranah narsisisme. Perhatian penonton dibelokkan dari pertemuan dengan objek luar sebagai Liyan ke arah parameter situasi psikologis dimana Diri dibangun.

Jadi saya melihat posisi ambivalen Asung sebagai tanda bahwa What adalah pergulatan dalam dirinya sendiri. Karya video tersebut menampilkan Asung sebagai pencipta yang resah juga medium penyampai keresahannya itu.

 

Indah Lestari

This article was originally written in September 2008 for the art writing workshop organized by Ruang Rupa, Jakarta. For more information on the workshop, check www.jarakpandang.net

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s