Book and Beach Club Day-out in Bantul

Ini adalah pertemuan untuk Klub Buku Rara yang pertama kali untuk saya. Buku yang akan didiskusikan adalah The Geography of Bliss, sebuah kisah perjalanan yang dicatat oleh Eric Weiner (kami membaca terjemahan bahasa Indonesianya, terbitan Qanita). Untuk ulasan buku dan kritik terjemahannya, saya ceritakan terpisah ya…

bliss tempo co

Kami bangun pagi hari itu, dengan penuh perjuangan. Kami bertolak dari Jalan Kaliurang Yogyakarta sekitar pukul 9. Rencana awalnya adalah Rara berangkat bareng India dengan motor, sedangkan saya dengan ojek yang sudah dipesan. Ojek akan menurunkan saya di pasar Bantul, lalu saya lanjut dibonceng Mbak Tiwuk. Sebelumnya saya khawatir harus mencari helm dulu, karena malam sebelumnya belum beli di jalan Abubakar Ali karena toko sepanjang jalan sudah pada tutup. Malam itu juga India sudah memberi-tahu bahwa, kata Rara, India harus kerja dulu, ke shelter untuk kliennya. Keesokan paginya India harus membatalkan kepergiannya karena masih harus mengurus kliennya itu. Jadi Rara memesan ojek satu lagi. Ternyata saya kebagian ojek yang mengantar saya malam sebelumnya. Oke lah, walau dia sedikit cerewet. Bawaan kami? Selain buku itu, kami sudah mendapat tugas masing-masing. Rara, jus dan minuman; saya, makanan pencuci mulut.

Ojek saya, yang tadinya mengikuti ojeknya Rara, tiba-tiba memisahkan diri (deng deng deng!). Tukang ojek saya membangga-banggakan bahwa dia asli Bantul (saya tahu dari cerita dia malam sebelumnya bahwa dia berhasil beli rumah di Bantul ini seharga 100 juta, hasil ngojek… dan beberapa cerita lainnya). Dan dia bisa tiba lebih cepat karena dia tahu jalannya. Kenyataannya sebaliknya, ojeknya Rara sudah menunggu kami di Pasar Bantul selama 15 menit. Ini saya maklumkan karena dia berkendara dengan kecepatan moderat. Untung tidak hujan. Saya sih berjaga dengan bekal jas hujan dan payung! Selepas Ring Road, saya mengenali rute karena minggu lalu baru saya ke daerah Dongkelan, suatu boutique hotel bernama Vila Kupu-kupu, tempat teman kakak saya bernama Bowo. Ternyata kami bergerak lebih jauh lagi. Melewati juga pusat satwa dan tanaman hias. Lalu saya sempat melihat motor dan sepeda yang tumplek ruah untuk menghadiri suatu acara entah apa. Jalanan bersih. Kami melewati Pasar Bantul ini, dan bergerak beriringan lagi dengan ojek Rara, mencari persisnya rumah Mbak Tiwuk.

Image
Sesampainya kami di rumah Mbak Tiwuk, baru saja saya melepas helm dan mencerap kehijauan rumahnya—bagian luar dengan taman/kebunnya dan bagian bangunan rumahnya, saya diperas oleh tukang ojek saya ini, yang mematok tarif Rp35000. Dia mengeluarkan daftar harga berlaminating, harga resmi kantor dan menyatakan nomina untuk tujuan “Bantul Kota”. Padahal Rara cuma membayar Rp20000 ke Pak Edi ojek langganannya, sesuai kesepakatan sebelumnya. Yah… setidaknya Pak Parman ini akan masuk blacklist saya, bahkan mungkin saya akan mewartakan ini sampai ke Jakarta! Haha! Tapi suasana rumah Mbak Tiwuk menyembuhkan saya. Banyak sekali tanaman dan pohon. Ada mangga madu dan harum manis, berbagai kamboja, kembang sepatu, sejenis suplir (?), berentetan kaktus, bunga favorit saya teratai—biru dan mekar dan daunnya nyaris tanpa cacat, bunga ‘klasik’ merah berkelopak empat dan berbatang duri kejam, dll dsb. Hebohlah perbincangan seputar tanam-menanam antara para simpatisan ini, Rara dan Mbak Tiwuk, selagi kami menunggu Nina yang tinggal tak jauh dari situ. Dan.. psstt, bahkan Rara menemukan ‘harta karun’ yang masih setali merah dengan pertemuan klub buku mereka sebenarnya… (*mention katarara).

Image
Sebelumnya saya sedang main ke tetangga, ingin memotret pohon mangga berbuah melimpah yang saya curigai adalah ‘mangga apel’. Berkat pengetahuan yang saya cerap dari bergaul di Mirota Kampus, saya kenal berbagai jenis mangga! Yeah! Selagi sibuk dengan mangga-mangga centil bergelayut, handphone saya dan Instagram, saya masih heran kok buah-buah ini selamat dari tangan usil nan berhasrat. Eh tahu-tahu sang pemilik rumah, seorang bapak berusia sekitar 60-an, beruban, berkaus, bercelana pendek, berkaca-mata, menghampiri saya. Langsung saya basa-basi dan memuji-muji pohon yang tepat di tengah-tengah depan rumahnya. Dia mengaku tak enak kalo memberikan buah ini ke tetangganya karena rasanya tidak enak (masa??). Ya, kata Mbak Tiwuk buah ini harus matang pohon, makanya para audience rela menunggu tiba waktunya dia matang dengan pas, menurut standar orang kebanyakan ☺. Eh bapak ini berbaik hati memberi saya dua buah mangga ini yang dia ambil dari dalam rumahnya!

Saya kembali ke rumah Mbak Tiwuk dengan mengumbar senyum. Tak lama Nina pun datang. Menjerit setelah melihat harta karun temuan Rara dan mulai menjepret-jepret kamera DSLR-nya. Mbak Tiwuk pun memetik mangga harum manis dan mangga madu sebagai tambahan untuk bekal piknik kami. Sepertinya tidak ada perkebunan mangga yang dikelola secara profesional (profit oriented?) di negeri ini, karena pohon tumbuh di halaman mana saja, dan siapa saja bisa jadi ‘pengebun mangga’. Dan pemerintah perlu memberi penyuluhan khusus bagaimana mengelola panen (betapa banyak yang tercecer terbuang dan dicaplok kelelawar!) dan mungkin menyalurkannya ke, terutama, daerah ber-gross domestic manggoes rendah.

Kami naik mobil Nina ke rumahnya. Perempuan imut beranak satu ini dulunya anak kota, dan sempat mengalami goncangan budaya waktu tinggal di kota kecil ini. Tapi sekarang dia sudah kerasan, dan anaknya, Sita, akan puas mengenal alam dan binatang-binatang di sini, bonus udara bersih dan suara-suara yang melangka di daerah perkotaan. Nina, selaku pemandu wisata dadakan kami, menunjuk dan menjelaskan jembatan yang konon merupakan yang terpanjang di Jawa Tengah. Kami tiba di rumah Nina, sayang Sita sedang di keluar bersama ayahnya, ke bengkel. Kami mengambil perbekalan dan berangkat lagi. Hamparan sawah bermurah hati dengan warna hijau dan ketenangannya. Sepertinya bermain sepeda, bercaping, menyusuri pematang “rumput” ini akan mengasikkan sekali, bukankah? Kami berpapasan dengan dua mobil-kereta masing-masing dua gerbong, ala bis yang mengelilingi kebun binatang, penumpangnya bersesalan. Lucu juga kalau bis ini disewa untuk acara keluarga pasca-pernikahan seperti cerita Nina ya. Ternyata perjalanan kami pendek. Sudah ada petunjuk, ke kanan Pantai Baru, kiri, Pantai Kuwaru. Kami di Dusun Ngetak, Poncosari, Srandakan. Srandakan memang pas disebut ujung dunia… Angin pantai mulai terasa. Pemandangan yang menawan perhatian kami pertama adalah kincir angin. Kincirnya sih tidak panjang, jumlah menaranya pun tidak wah. Tapi di antara bentangan langit biru cerah itu, kincir anginnya kelihatan mewah, kadang menyerupai helikopter dengan moncongnya. Kami memasuki kompleks Pantai Baru. Dijelaskan pengumuman yang bacanya: « Pembangkit listrik tenaga hibrid ». Angin sudah, matahari? Panel surya yang saya lihat tidak besar, di sisi kanan-kiri saya, dan letaknya tidak tinggi. Kami pun parkir dan mengeluarkan barang bawaan kami, berjalan menuju pantai.

Image

Pantai tidak terlalu ramai. Penjual makanan juga tak banyak. Walau ada pasar ikan dan ‘penjual jasa’ masak. Daftar harga: goreng 7.000, bakar 10.000, goreng tepung 10.000, dan asam manis 10.000. Murah kan? Cuma dua-tiga yang menjual baju. Mungkin tak ada suvenir. Ada bangkai ikan hiu tutul terdampar suatu sore bulan Agustus lalu yang kini terbujur, bentuknya tak karuan (lihat pantaibaru.wordpress.com). Daerah yang teduh dengan pohon cemara adalah yang kami okupasi. Tikar 3 meter warna biru muda digelar (berdasarkan pengakuan Rara, harganya 3000 semeter). Makanan dan, tidak lupa, buku, ditebar. Ada kripik tempe, nasi goreng, kopi good day rasa orange, kacang, mangga, pudding buah, kripik jagung, dan lainnya.

Klub buku ini, kata Rara, dibentuk untuk membahas buku yang tidak berkaitan dengan pekerjaan Rara dan teman-temannya. Sebelumnya mereka telah membahas kumpulan cerpen Nadira oleh Leila Chudori, yang katanya “berat” dan “sedih”. Rara ambil kendali sebelum kami lepas kendali dihadang makanan. Dia melancarkan pertanyaan demi diskusi ini. Apa arti kebahagian buatmu? Sejujurnya saya belum selesai membaca buku ini. Tapi pembagian berdasarkan negara di buku ini asyik sekali. Kami memberi contoh-contoh cerita dari buku untuk mendukung argumen kami. Untuk mengenali kebahagiaan, kita harus tahu ketidakbahagiaan. Apakah kebahagiaan bisa dinilai dengan uang? Para pembaca antusias ini sepakat melempar kesimpulan bahwa kebahagiaan itu bisa jadi sederhana, sesederhana makan mangga (manis) dan ada yang ngupasin, malah ada yang nyuapin ☺  Dengan backdrop pantai berpasir abu yang lumayan bersih, ombak yang lumayan besar, angin semilir, tentu kami berbicang serius. Tentang kebebasan, pilihan, nilai agama, menjadi warga negara dan pelancong, mempelajari budaya, TKI, uang. Dan sebagainya. Acara klub buku ini toh bentuk kebahagiaan itu. Beserta merencanakan buku selanjutnya (trilogi Kim Dong-Hwa?) dan tempat berikutnya (gunung Kaliurang?) dan jatah tugas menu seterusnya he he…

Cuaca berpihak pada kami, tidak hujan. Dua fotografer, Mbak Tiwuk dan Nina membebaskan kreasi mereka. Pemandangan dan kami sendiri jadi modelnya. Pengunjung datang-pergi silih berganti, mobil pantai roda-tiga (bermesin, ya) meluncur. Sinar matahari menghangat. Saya berjalan ke arah Barat, ingin meneliti air. Ombak menepi pasti-pasti. Eh, kepiting kecilpun, dengan kelincahan dan kebahagiaan sendirinya, menarik perhatian saya juga. Buih air sekejab menghias landai pantai, sekejab itupun tersedot menghilang. Di kejauhan ada kapal, atau mungkin bukan. Kata Rara, laut terlalu sulit diprediksi. Segalanya mungkin terjadi. Di sini lagi saya berdiri, di tepi darat dan air. Laut memang serba merangkul, menjadikan bumi satu. Life of Pi, Talk to Her-nya Almodovar, Iones Rakhmat, Mata Tertutup-nya Garin… semua jadi satu. “Kehidupan itu ‘indah’, tak boleh ada yang menutupnya.” Saya berjalan, kembali ke basecamp.

Matahari makin miring, condong ke Barat. Pose meregang: bersandar, berselonjor dan tiduran. Jadi ingin tinggal di mana di antara negara-negara tersebut? Qatar, tidak menarik, orang-orangnya kurang ajar. Islandia, terlalu depresif. Bhutan, terlalu terisolasi. Amerika, lewat. Belanda, bisa jadi pilihan. Moldova? Inggris Raya? India? Kalau yang terakhir, sih, layak dikunjungi lagi, setidaknya bagi saya. Apakah Eric penggerutu? Apakah Eric bertambah bijak? Kelapa muda dipesan. Topi Rara digilir. Para pemancing ikan di pantai bergeming. Oh ya, ternyata Pantai Parangtritis kelihatan dari sini. Tak lama, Sita dan ayahnya datang. Kami punya model satu lagi untuk difoto-foto. Selain sadar kamera, Sita, anak berpipi tembam dan berambut ikal ini juga unjuk kebolehan menyanyi dan menari! Melihat keluarga kecil ini bahagia, ya, membahagiakan.

Waktunya pulang, kami mengakhiri kunjungan singkat namun berkesan ini. Hari Minggu itu benar-benar terasa hari Minggu bagi saya yang berkantor ini. Lain kali kami akan coba blekecek, “bumbu mentah dikasih santan”. Oke. Salah satu sandal saya, yang pernah diselamatkan Rara dengan jarum dan benangnya, kini almarhum. Mbak Tiwuk memburu gambar kincir-kincir megah. Kami tak jadi mampir ke Goa, lalu kembali ke rumah Nina. Asin dan pasir seperti menempel di paras kami. Sita mentas lagi. Tante Rara sulit mengucapkan selamat tinggal pada anak ini sepertinya. Tapi kami harus pergi. Di rumah Mbak Tiwuk yang bercat dan berubin hijau itu kami menyempatkan cuci muka. Pertemuan berikutnya? Mungkin saja di lain kota. Sampai jumpa.

Publicités

Laisser un commentaire

Entrez vos coordonnées ci-dessous ou cliquez sur une icône pour vous connecter:

Logo WordPress.com

Vous commentez à l'aide de votre compte WordPress.com. Déconnexion / Changer )

Image Twitter

Vous commentez à l'aide de votre compte Twitter. Déconnexion / Changer )

Photo Facebook

Vous commentez à l'aide de votre compte Facebook. Déconnexion / Changer )

Photo Google+

Vous commentez à l'aide de votre compte Google+. Déconnexion / Changer )

Connexion à %s