Suatu konflik antara mahasiswa-mahasiswa (muda) dan dosen killer, sesuatu yang sebenarnya tak lagi kupermasalahkan, membawaku mengenang suatu nama tokoh di satu novel karya pengarang besar yang salah satu fase dalam hidupnya sering dikaitkan dengan pesona kota ini. Aku datang terlambat, seperti biasa, namun dosen kali ini melarang mahasiswa untuk datang terlambat di kemudian hari, dan tidak perlu masuk kelas. Aku masuk, minta maaf dan duduk manis. Mahasiswa lain yang lebih terlambat, datang satu per satu dan membuat sang dosen tambah panas. Saat dosen itu masih ngomel, alarm berbunyi. Mungkin sekedar peringatan palsu, atau sekadar untuk latihan, yang jelas kami harus keluar gedung membawa semua barang-barang kami. Turunlah kami dari lantai 3, berkumpul dengan semua orang di lapangan di depan gedung. Aku bergabung dengan kerumunan yang kurang setuju dengan cara mengajar dosen itu–para pemberontak. Setelah dikonfirmasi bahwa kami bisa kembali ke kelas, ternyata pintu tertutup. Aku ketuk, tak ada balasan. Kami menunggu sekitar 15 menit. Ada mahasiswa yang turun dan memberi tahu dosen lain. Monsieur Garcon naik, membuka pintu dengan kartu aksesnya, dan.. voila.. dosen itu sedang mengajar walau cuma ada 3 orang di sana. Kami terpana. M Garcon menyarankan kami untuk tidak memulai konflik, dan menyampaikan pesan bahwa kami bisa masuk di sesi kedua jam 11.30.
Kami menunggu sambil mengobrol. Ada yang mencoba menghapal nama-nama kami. Banyak dari mereka yang memanggilku Linda (artinya cantik dalam bahasa Spanyol 🙆🏻). Ada yang menjelaskan arti atau asal usul nama Fatma. Lalu Santiago.
Ya, itu nama tokoh di novel Le Veille Homme 🚤et la Mer, alias The Old Man 🎣and the Sea. Dari novel itu, sudah lama sekali aku baca untuk kelas Prose waktu kuliah, aku belajar satu kata bahasa Prancis: la mer. Kata benda, feminin, artinya laut. 🌊

View on Path

Publicités