counting the days

So.. my time is almost over. It’s time to embrace the motherland again. What have I done? What have I got? And.. what not?

I guess I have been lucky that I didn’t suffer from any serious illness during my stay. I just got diarrhea, cough, some fever and skin problems. and hair fall. as a friend’s saying, god is on my side. i didn’t use the Ventolin inhaler for asthma, though i got the refill free from the campus’ health center. i didn’t even use a single drop of Rohto. (But I badly need Johnson’s baby powder).

packing.. packing.. what to bring and what to dispose of (or give to anyone)…

seems that I have been collecting gifts, or for personal possession ( 😛 ) for these two years. I got so many bracelets, for example. I brought from home so many books (14kg overweight) and now it can be doubled… One of my precious books (because of the cheap price and tough hunting) is Nietzsche’s Basic Writings I got from Kolkata… yummm. I have a hindi course book from Palika Bazaar, but I know I wont touch it again.

I found a broken Nokia handset (even the charger is not original) and wondering whether it’s worth repairing or even just changing the battery. I found the data cable of my lost CREATIVE mp3 player…

one of my two suitcases is already full ONLY with winter clothes… and I have even separated some for my friend, including socks and monkey cap and shawls. God knows where I can put the remaining stuffs, including clothes, rice cooker and printer…

I found a sri lankan keyring, chinese pin, UAE coin and nepal’s casino coin…

When packing, you need to think a lot. That’s why it takes such a long time. As I told someone special, it’s about choosing memories or valuable things worth keeping.

and I am yet to buy some more stuffs, especially for my mom. she loves papad. and I think pudina masala or aam powder would be awesome for her cooking.

I’m counting the numbered-boxed on the shiny happy desk calendar. So what have I not done in this wild country? Why am I just sitting here passively, sometimes staring at myself at the mirror (I just need to turn my head from where I sit)?

It’s like death is approaching. the end of life, at least life in this, again, wild country. I stopped buying things especially that are heavy. I stopped eating food especially that I can find easily in my homeland (?), and cheap. I estimate when my shampoo, or my toothpaste, or my hair oil (uh yeah, I’m almost Indian) will be depleted. I keep telling everybody when I’m leaving, like announcing my will (« come on, this is your last chance to have ME »).

But of course I also tell those back home that I’m coming. That I will join them, hang out with them etc etc. Building a discourse, rendering your existence. Also because I would need a job.
But I still can’t imagine how packed my city is now. I have asked my mom that I need a break…

well, see you later alligator

Publicités

electric shock

Memasuki diskotik itu, aku sadar aku akan jadi makhluk langka. Aku sudah diberi tahu bahwa malam itu adalah malam khusus gay. Lagipula, walaupun aku tiba sesudah temanku, kami kepagian. Aku berangkat dari rumah makan makanan south Indian jam 11 malam, setelah selesai makan malam, jadwal makan setempat memang terlambat. Temanku menghentikan autorickshaw dan menyebutkan tujuanku. Sang supir menyebut limapuluh rupee untuk ongkos. Akupun langsung memasuki auto tanda setuju, tak peduli berapa angka yang akan ditunjukkan argo karena aku tahu harga malam lebih tinggi. Kombinasi angin malam dan kecepatan auto membuatku harus memegangi rokku kalau aku tidak mau dia berkibaran dan mata supir auto jelalatan. Yap, seperti biasa aku tak tahu jelas jalannya. Kelewatan gangnya. Aku berhenti di dekat kompleks perbelanjaan dan rumah makan di kawasan diplomatic, membayar ongkos dan mulai berjalan kaki. Aku mulai mengenali bangunan sebelum gedung diskotik yang pernah sekali kudatangi itu. Temanku yang mengundangku sudah menunggu di luar. First drink dikenakan biaya 400 rupee.

Temanku yang gay itu, Aksad, datang bersama temannya, Sanjeev, sesama gay. Aku merasa nyaman dengan kedua laki-laki ini. Pembawaan mereka, seperti gay lain yang kukenal, selalu ceria. Mungkin karena keduanya cenderung feminin.

Aksad mengambil kuponku dan menanyakan minuman yang ingin kupesan. Kukira itu tidak terlalu penting, aku tidak berniat mabuk dan minuman keras apapun sama saja bagiku. Kecuali bir, aku tidak suka bir, baik bau maupun rasanya. Dia memesan double vodka dengan campuran jus cranberi. Good enough.

Tempat itu belum padat. Orang-orang, tepatnya para lelaki, masih bisa bersandar di bar atau di tembok sekeliling. Tempat pelarianku, toilet, ternyata malah tidak kosong. Ada dua atau tiga orang mengantri. Di dekatku lebih banyak laki-laki separuh baya. Sungguh bukan pemandangan yang kuharapkan. Aksadpun menarikku ke lantai atas.

Memang aku ke sini bukan untuk pemandangan apalagi mencari pasangan. Ditambah, aku straight. Aku sekedar ingin suasana lain, sepotong kue jeda dari dunia yang biasa kuhidupi. Akupun berteman baik dengan Aksad, yang sudah come out. Aku juga tidak keberatan melalui waktu dengannya, dilihat berbagai macam orang dengan berbagai macam pikiran, atau aku malah beruntung karena mereka mungkin akan mengira aku hanya bersahabat dengannya—tidak dalam hubungan romantis apapun.

Aksad yang memang seorang penari ulung, tak kuat dengan gencar musik tanpa meliukkan tubuhnya. Bahkan bisa saja dia loncat ke atas meja dan mulai memamerkan jurus tarian ularnya. Sanjeev sudah menyelesaikan satu botol bir Kingfisher, dia agak kalem, menunduk saja sebelum menyapaku. Beberapa kancing atas kemeja putihnya dibuka, kalung dan sebagian dadanya kelihatan. Ia tampak seksi. Kami dapat tempat satu meja. Sanjeev dalam waktu dekat akan melanglang buana. Sebagian dibiayai, sebagian dari kantong sendiri. Aku teringat keseruan membuat itinerary, merancang jadwal dan  tempat yang akan dikunjungi, sebelum akhirnya menghitung ongkos dan tabungan.

Aksad menerjang lantai dansa. Tindakan yang berani karena orang-orang di lantai ini–yang seperti balkon, diisi dengan beberapa meja–hanya melihat lantai dansa yang sebenarnya di bawah. Tapi toh kemudian beberapa orang juga mulai berdansa. Ada sepasang laki-laki Kaukasia bersuara lantang. Ada juga sepasang gay yang masih sangat belia. Kadang perempuan memang menyesali kenapa laki-laki yang ganteng atau imut harus menyukai sesama jenis. Seperti ada kekhawatiran akan menipisnya generasi straight. Atau akan dirinya tidak cukup menarik, tidak laku.

Tentu saja Aksad menarikku, dan ketika kau sudah berdiri, kau harus mulai berakting. Menjadi dirimu yang lain. Pasang topeng. Pura-pura tidak peduli akan dunia, padahal sangat sadar atau berpikir bahwa semua mata terproyeksi ke dirimu, tingkat proporsi tubuhmu, bentuk buah dadamu, lekuk pinggangmu, gerai rambutmu, kesemampaian kakimu, dan lainnya. Segala gerak-gerikmu dipantau, dinilai. Tapi pilihan ada di tanganmu, mau diapakan pakem-pakem itu.

Mungkin ketika perempuan muak dengan pandangan laki-laki, mereka akan berpaling ke sesama perempuan. Setelah pengalaman buruk dengan laki-laki, patah hati, digebuki, ditipu atau hanya lelah bercinta.

Dua laki-laki gay ini bertindak seperti pengawal pribadiku saja. I really love them. Merekalah yang akan menjadi partner dansaku. Berhadapan dengan mereka, aku seperti berada dalam lindungan mereka, seolah tak boleh ada orang mencoba bergabung. Beberapa laki-laki mencoba berdansa denganku. Aku pun curiga bahwa mereka tidak gay. Kesempatan selalu menyelinap di kesempitan.

Ternyata tidak laki-laki saja yang mengambil kesempatan. Seorang perempuan, yang kuakui cantik, mendekati kami. Ia datang dengan seorang laki-laki, yang mengatakan padaku bahwa perempuan itu ingin berdansa denganku. She, rather than we, wants to dance with me. OK. Kyo nahi? Perempuan itu berkaos ketat hijau kebiruan lengan panjang dan bercelana jeans. Tangan kiri memegang botol Kingfisher dan tangan kanan rokok menyala. Gerakannya berada di bawah kesadaran bahwa ia menarik perhatian, bahwa ia seksi. Dengan kepala yang sedikit tengadah, dan bibir mengkerut menghisap rokok. Sudah rokoknya habis, tubuhnya melekat pada tubuhku. Tangan kanannya pun leluasa menelusuri tubuhku–pundak, lengan, pinggang. Kubiarkan. Dia menyodorkan botol itu dan aku menenggaknya sekali. Sekali lagi tapak tangan dan jejarinya meliar, memegang buah dadaku layaknya menyungkup buah apel. Merasai sesuatu dibawah bra-ku, memijat putingku. Sebuah setruman. Mmm… beberapa tarikan napas lewat sebelum aku menyimpulkan bahwa itu langkah yang berani. Dan beberapa tarikan napas lagi sebelum aku ingin dan akhirnya menatap wajahnya, menghapus rasa ingin tahuku akan orang yang benar-benar berdiri di hadapanku. Aku bisa bilang senyumnya nakal, tapi matanya terpejam. Cantik, sungguh cantik. Rambutnya lurus panjang. Sempat kurangkul, ramping. Lalu? Mungkin aku terlihat canggung, ia menawariku minum lagi.

« You’re beautiful, » katanya. Terima kasih, kataku dalam hati. Pujian standar, tapi aku tersanjung karena datang dari seorang perempuan.

« You, too, » aku balas. « May I know why you’re here? » Sialan, aku tahu perkataan itu tajam dan lancang. Tapi kupikir aku perlu tahu, berkat perlakuannya terhadapku.

« Well.. you know… I’m a lesbian. » Dia tertawa.

« Okay. »

« But don’t think of me being a lesbian. Just dance, like fire. »

Sesungguhnya, aku takut mengecewakannya. Tapi lagu sampai pada ujungnya. Lagu berikutnya, lagu Hindi, tidak cukup bersemangat hingga aku berhenti. Aku mengambil gelasku, dia melenggang ke mejanya. Setelah itu pasanganku berganti menjadi laki-laki berpakaian serba putih. Kubiarkan dia mempertunjukkan gerakannya. Pikiranku kabur, hambur.

Setelah beberapa saat, ‘pasangan’ laki-lakinya menawarkan membelikanku minum. Aku tidak tahu bagaimana konvensi untuk ketika kita ditawari minuman. Hanya sebutkan kau mau minum apa? Harus ngobrol dengan mereka? Setidaknya aku tanya nama laki-laki itu dan berterima kasih padanya. Aku seperti menimbang apakah aku tertarik pada laki-laki itu atau lebih pada perempuan itu? Aku tahu jawabanku akan juga menentukan orientasiku yang sebenarnya. Aksad selalu berpikir bahwa aku lesbian. Tapi menurutku ia hanya mendorongku untuk mengenali diriku sendiri lebih jauh. Dan akupun selalu bilang padanya bahwa aku straight.

Aksad bilang, aku beruntung ada orang yang membelikanku minum. « You’re so popular! » katanya dengan nada manja. Dan Aksad menyatakan ide bagus, untuk datang lagi ke tempat itu minggu depan. Bahwa kami harus bertemu mereka lagi. Cerita belum selesai.

up there

clouds, are what you are like. floating, hanging, transparent, almost non-exist. but you filter the sunrays, the suffering in life, before they reach me. you prevent them from devouring me